Pimpinan sekaligus pendiri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami adalah KH. Helmy Abdul Mubin, Lc. Beliau tidak tahu secara pasti tanggal kelahirannya. Hal ini terjadi karena orang tua beliau tidak biasa menulis tanggal lahir anaknya. Demikian menurut penuturan beliau ketika diwawancarai penulis.
Namun demikian secara administratif di kartu tanda penduduk juga ijazah, putra Madura ini menggunakan tanggal lahir 23 Maret 1956. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan almarhum Abdul Mubin dan Musyaroh ini menghabiskan masa kecilnya di Prenduan Madura. Setelah lulus SD Pragaan di Sumenep, beliau pun melanjutkan pendidikannya ke Pondok Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Masa belajar di Gontor merupakan kenangan indah sekaligus menyedihkan. Sebagai anak yang baru lulus Sekolah Dasar, Helmy kecil berangkat ke Ponorogo tanpa diantar orang tua. “Saya berangkat ke Gontor sendiri”, kata lulusan Gontor tahun 1973 tersebut. Sang Ayah hanya memberi uang secukupnya dan menyertakan doa agar dia sampai dengan selamat di Gontor. Anak yang sudah ditinggal wafat oleh ibu tersebut harus menyeberang selat Madura sendiri tanpa ditemani sanak saudara. Sebuah awal perjuangan yang sangat berat.
Selama enam tahun belajar di Gontor, ayahnya tidak pernah sekali pun datang menjenguk. Meski merasa sedih namun keadaan ini dimaknainya sebagai ujian. Baginya sudah diizinkan sekolah ke Gontor saja sudah merupakan sebuah hadiah yang teramat indah. Dia tidak mau mengharap sesuatu yang bisa memberatkan orang tua. Ayahnya tidak mungkin menelantarkan. Beliau tidak datang menjenguk ke Gontor tentu dengan alasan yang sangat kuat.

Meskipun tidak pernah dijenguk orang tua, Helmy muda tidak terpuruk. Dia masih mampu berpresatsi di Gontor. Ini terbukti dengan surat penunjukan pesantren kepadanya untuk mengabdi di Gontor setelah menamatkan Aliyah. Satu tahun penuh Helmy muda mengabdikan diri di almamaternya. Ternyata menjadi ustadz lebih berat dari pada menjadi santri. Meski tidak diberi uang honor mengajar, beliau tetap melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. “Selama menjadi guru di Gontor saya hanya diberi uang bulanan untuk cukur”. Kalimat ini sering beliau sampaikan untuk memotivasi guru-guru agar tidak menjadikan pengabdian di pesantren sebagai ajang mencari uang.

Setahun menjadi ustadz di Gontor, remaja yang ditinggal bersama ayah dan ibu tiri ini memilih pulang kampung. Selama di Sumenep, Helmy muda mengajar di Al-Amien, pesantren modern di Madura yang dipimpin oleh alumni Gontor. Terhitung hanya tiga bulan dia mengabdi di Al-Amin untuk kemudian hijrah ke Jakarta.

Di ibu kota Negara, alumni Gontor itu mengajar di pesantren Darurrahman. Darurrahman menjadi kawah candra dimuka kedua baginya setelah Gontor. Jika di Gontor dia belajar menjadi santri, di Darurrahman dia belajar menjadi ustadz. Keadaan beliau saat itu masih sulit, “Pagi hari saya mengajar di Darurrahman, malam saya mencari tambahan menjadi kernet angkot”. Tutur beliau mengenang masa-masa awal di Jakarta.

Meski demikian ustadz Helmy selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik bagi pesantren. Beliau tidak pernah perhitungan dalam bekerja. Kinerja Ust. Helmy yang dikenal baik oleh kalangan santri dan guru menjadi salah satu alasan pimpinan Pesantren Darurrahman untuk mengangkatnya menjadi koordinator di pesantren cabang Darurrahman.

Ustadz Helmy yang mendapat gelar Lc dari universitas Madinah setelah menempuh masa pendidikan empat tahun, pindah ke Bogor. Beliau memulai tugas sebagai koordinator pesantren Darurrahman II yang terletak di desa Sibanteng kabupaten Bogor. Di Bogor inilah Ust. Helmy yang sudah memiliki dua orang putri dari pernikahannya dengan Fatmah Noor belajar mengelola pesantren. Meski hanya seorang koordinator yang masih bertanggung jawab langsung kepada pimpinan pesantren, Ust. Helmy tidak setengah hati dalam membangun Darurrahman II. Pengorbanan beliau terbayar dengan semakin banyaknya santri yang mondok di pesantren tersebut. Pada tahun 1992, tercatat lebih dari seribu santri belajar di Darurrahman II.

“Dimanapun kita tinggal, harus memberikan kesan yang baik bagi orang lain. Selama Darurrahman Jambu saya berusaha untuk berhubungan baik dengan masyarakat. Silahkan Tanya kepada orang Jambu tentang saya! Alhamdulillah sampai sekarang banyak masyarakat Jambu yang bersilaturahmi ke rumah”. Pernyataan Ust. Helmy ini menguatkan fakta bahwa selama di Darurrahman beliau berusaha untuk berbuat yang terbaik. Sehingga bukan hanya pesantren, santri dan guru-gurunya yang diperhatikan, masyarakat sekitar juga menjadi objek perhatian beliau.

Seiring dengan waktu, Ust. Helmy memutuskan untuk keluar dari Darurrahman. Beliau ingin mewujudkan cita-cita memiliki pesantren sendiri. Harapan tersebut menjadi nyata ketika pada tanggal 1 Muharrom 1414 H beliau melaksanakan tasyakuran peletakan batu pertama pesantren yang diberi nama Ummul Quro Al-Islami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

KH. Helmy Abd. Mubin, Lc bersama istri Bu Nyai Hj. Fatmah Noor Salim

KH. HELMY ABDUL MUBIN, Lc

Pimpinan sekaligus pendiri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami adalah KH. Helmy Abdul Mubin, Lc. Beliau tidak tahu secara pasti tanggal kelahirannya. Hal ini terjadi karena orang tua beliau tidak biasa menulis tanggal lahir anaknya. Namun demikian secara administratif di kartu tanda penduduk juga ijazah, putra Madura ini menggunakan tanggal lahir 23 Maret 1956. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan almarhum Abdul Mubin dan Musyaroh ini menghabiskan masa kecilnya di Prenduan Madura. Setelah lulus SD Pragaan di Sumenep, beliau pun melanjutkan pendidikannya ke Pondok Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Masa belajar di Gontor merupakan kenangan indah sekaligus menyedihkan. Sebagai anak yang baru lulus Sekolah Dasar, Helmy kecil berangkat ke Ponorogo tanpa diantar orang tua. Ayahnya hanya memberi uang secukupnya dan menyertakan doa agar beliau sampai dengan selamat di Gontor. Anak yang sudah ditinggal menginggal oleh ibu tersebut harus menyeberang selat Madura sendiri tanpa ditemani sanak saudara. Sebuah awal perjuangan yang sangat berat.

Selama enam tahun belajar di Gontor, ayahnya tidak pernah sekali pun datang menjenguk. Meski merasa sedih namun keadaan ini dimaknainya sebagai ujian. Baginya sudah diizinkan sekolah ke Gontor saja sudah merupakan sebuah hadiah yang teramat indah. Beliau tidak mau mengharap sesuatu yang bisa memberatkan orang tua. Ayahnya tidak mungkin menelantarkan. Beliau tidak datang menjenguk ke Gontor tentu dengan alasan yang sangat kuat.

Meskipun tidak pernah dijenguk orang tua, Helmy muda tidak terpuruk. Beliau masih mampu berpresatsi di Gontor. Ini terbukti dengan surat penunjukan pesantren kepadanya untuk mengabdi di Gontor setelah menamatkan Aliyah. Satu tahun penuh Helmy muda mengabdikan diri di almamaternya.Ternyata menjadi ustadz lebih berat dari pada menjadi santri. Setahun menjadi ustadz di Gontor, remaja yang ditinggal bersama ayah dan ibu tiri ini memilih pulang kampung. Selama di Sumenep, Helmy muda mengajar di Al-Amien, pesantren modern di Madura yang dipimpin oleh alumni Gontor, KH. Idris Jauhari. Terhitung hanya tiga bulan beliau mengabdi di Al-Amin untuk kemudian hijrah ke Jakarta.

Di ibukota Negara, alumni Gontor itu mengajar di pesantren Darurrahman. Pesantren yang didirikan oleh KH. Syukron Makmun tersebut menjadi kawah candradimuka kedua baginya setelah Gontor. Jika di Gontor beliau belajar menjadi santri, di Darurrahman beliau belajar menjadi ustadz. Bukan sekedar ustadz tapi ustadz yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada pesantren. Meskipun Darurrahman bukan almamaternya, beliau tidak pernah perhitungan dalam bekerja. Beliau selalu terkenang pesan gurunya, “Jangan pernah bertanya apa yang diberikan pesantren kepadamu, tapi tanyakanlah pada dirimu apa yang telah engkau berikan kepada pesantren.”

Kinerja Ust. Helmy yang dikenal baik oleh kalangan santri dan guru ternyata mendapat perhatian dari Pimpinan Pesantren. KH. Syukron Makmun yang mendapat tanah wakap di Kp. Jambu Desa Cibanteng Leuwiliang Bogor, membuka Pesantren Darurrahman II. Kiyai Syukron tanpa ragu memberi amanah kepada Ust. Helmy untuk mengelola Darurrahman II.  Hal ini terjadi setelah beliau menyelesaikan studi S1 di Madinah.

Ust. Helmy yang mendapat gelar Lc dari universitas Madinah setelah menempuh masa pendidikan empat tahun, pindah ke Bogor. Beliau memulai tugas sebagai koordinator pesantren Darurrahman II yang terletak di desa Sibanteng Bogor. Di Bogor inilah Ust. Helmy yang sudah memiliki dua orang putri dari pernikahannya dengan Fatmah Noor belajar mengelola pesantren. Meski hanya seorang koordinator yang masih bertanggung jawab langsung kepada pimpinan pesantren, Ust. Helmy tidak setengah hati dalam membangun Darurrahman II. Pengorbanan beliau terbayar dengan semakin banyaknya santri yang mondok di pesantren tersebut. Pada tahun 1992, tercatat lebih dari seribu santri belajar di Darurrahman II.

Seiring dengan waktu, Ust. Helmy memutuskan untuk keluar dari Darurrahman. Beliau ingin mewujudkan cita-cita memiliki pesantren sendiri. Harapan tersebut menjadi nyata ketika pada tanggal 1 Muharrom 1414 H bertepatan dengan 21 Juni 1993 beliau melaksanakan tasyakuran peletakan batu pertama pesantren yang diberi nama Ummul Quro Al-Islami.

Ummul Quro berasal dari bahasa Arab, Ummun dan Quro. Ummun artinya ibu sedangkan quro bentuk jamak/plural dari qoryah yang berarti desa. Jadi Ummul Quro berarti ibunya desa. Ummul Quro merupakan salah satu panggilan kota Mekkah. Penamaan pesantren dengan nama kota Mekkah diniatkan untuk tabarruk, berharap berkah kebaikan. Ust. Helmy berharap pesantren yang didirikannya akan seperti kota Mekkah yang selalu penuh diziarahi umat Islam dari segala penjuru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *