Kata santri lebih banyak diidentikkan dengan dunia pesantren. Karena memang santri dan pesantren adalah dua elemen yang tidak bisa dipisahkan. Pesantren tanpa adanya santri, seperti rumah kosong tanpa kehidupan. Santri tanpa adanya pesantren, seperti burung tanpa sarang, terbang bebas tanpa ada tujuan. Tetapi tidak semua santri harus berada di lingkup pesantren, dimanapun manusia berada dan hidup, bisa memposisikan dirinya sebagai santri.
Sekitar puluhan tahun yang lalu, Nusantara ini dimerdekakan atas perjuangan santri dan pesantren. Semangat jihad dan perjuangan dipekikkan oleh para kyai dan ulama. Gaungan takbir menyelimuti jiwa para pejuang kaum santri. Memecahkan semangat para penjajah dan kolega, menghancurkan mental dan akal. Dengan perjuangan para santri dan kyai lah, kemerdekaan bangsa ini direbut kembali, dalam pelukan penghuni pribumi bangsa ini.
Puluhan tahun sudah berlalu, kaum santri millennial seakan melupakan perjuangan pendahulu-pendahulunya. Kebanyakan jiwa mereka terobralkan janji manis dunia, mengejar mimpi-mimpi di dunia tidak nyata. Semangat juang kaum santri millennial terpupus oleh arus global dan teknologi. Menghancurkan jiwa dan akal para santri dengan cepat. Sehingga mereka menjadi bingung untuk apa mereka arungi samudera dengan bahtera ini. Jika kaum santri millennial kehilangan pegangan dan arah kehidupan ini. Puluhan tahun yang akan datang, tidak ada dunia santri yang bisa menguasai alam ini. Hanya akan ada golongan-golongan manusia yang hidup, untuk lebih mementingkan urusan diri dan duniawinya saja. Suluk dan khuluk sudah hilang terhembuskan derasan zaman modern, jika kaum santri tidak kembali kepada hati dan nurani.
Kita sebagai kaum santri modern dan millennial, sudah seharusnya berpikir panjang. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk generasi-genarasi santri selanjutnya. Dengan tidak membuang-buang waktu kita dengan melakukan sesuatu yang sia-sia. Menjaga muruah santri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan keji. Menanam semangat juang santri dengan banyak belajar dan berpikir positif, guna membentuk generasi nusantara yang kuat iman dan amalnya, di masa depan nanti. Sekian.

Oleh : Ust. Jamaludin Arrasyim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *