Menyikapi niat puasa Ramadhan pada lafadz رمضان

Oleh : Ust Manharul Latief Alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami angkatan ke-15

Mungkin dari kita ketika niat puasa Ramadhan ada yang membaca lafad رمضان dengan di bacaa Fathah atau kasroh huruf Nun nya,Oleh karena itu kami ingin menyikapi permasalahan di atas.

Dalam hal ini kami akan lihat terlebih dahulu dari sisi grametika Arab.

Lafad رمضان termasuk lafadz isim ghoiru munsorif (tidak menerima tanwin) sehingga isim ghoiru munsorif ketika di baca jer maka tandanya dengan Fathah selama tidak di idofahkan dan tidak bertemu dengan Al (ال) sebagaimana keterangan dalam bait Alfiyah :
وَجُرَّ بِالفَتْحَۃِ مَالَا يَنْصَرِفْ * مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِفْ.

Dalam hal ini ternyata lafadz رمضان di idofahkan terhadap lafadz setelah nya yaitu هذه السّنۃ sehingga ketika lafadz رمضان di idofahkan maka harakat yang pantas untuknya ialah kasrah sebagaimana keterangan dalam kitab Hasiyah Baijuri :
(قوله رمضان هذه السّنۃ)بإِضافۃ رمضان إلی إسم الإشارۃ لتكون الإضافۃ معيّنۃ لكونه رمضان هذه السّنۃ وأيضا علی عدم الإضافۃ تكون هذه السّنۃ ظرفالقوله نويت وهو فاسد لأنّ ظرف النّيۃ اللخظۃ الّتی وقعت فيها من الليل لاالسّنۃ.

Di idofahkan nya lafadz رمضان kepada هذه السّنۃ bertujuan untuk menentukan bahwasannya yang di kehendaki ialah Ramadhan tahun ini.Kemudian ketika lafadz هذه السّنۃ tidak menjadi مضاف اليه bagi lafadz رمضان tentunya akan menjadi ظرف bagi lafadz نويت dan tentu hal itu akan merusak makna karena lafadz نويت merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan waktu yang sangat singkat sekali akan tetapi di situ di ظرف fi dengan هذه السّنۃ yang maknanya ialah dalam waktu satu tahun.

Maka di sini akan timbul kerancuan makna yaitu makna sedikit (singkat) akan tetapi di situ di ظرف fi dengan هذه السّنۃ yang memiliki makna satu tahun sehingga makna akan rusak.Oleh sebab itu lafadz رمضان lebih pantas di baca dengan kasroh dengan niat semisal :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَۃِ فَرْضَا لِلّٰهِ تَعَالَی
Akan tetapi dalam keterangan kitab yang lain yakni kitab Hasiyah Jamal :
وقال بعضهم إن جررت رمضان بالكسر جررت السّنۃ وإن جررته بالفتح نصبت السّنۃ وحينءذ فنصبها علی القطع وعليه ففی إضافۃ رمضان إلی ما بعده نظر لأنّ العلم لا يضاف.

jika lafadz رمضان di baca jer dengan kasroh maka lafadz السّنۃ juga di baca kasroh dan jika lafadz رمضان di baca dengan fathah maka lafadz السّنۃ juga di baca fathah dalam artian tidak di mudofkan dalam hal ini dan juga terjadi قطع (terlepas dari idofah).Dan jika lafadz رمضان di idofahkan pada lafadz setelahnya yakni lafadz هذه السّنۃ itu juga terdapat sebuah نظر (kritikan) karena isim alam tidak bisa di mudofkan.

Dari kesimpulan di atas kita bisa mempraktekkan 2 pendapat .

Adapun pendapat pertama yakni dengan di baca kasroh lafadz رمضان dan هذه السّنۃ dengan semisal niat :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَۃِ فَرْضَا لِلّٰهِ تَعَالَی
Adapun pendapat kedua yakni dengan di baca fathah lafadz رمضان dan هذه السّنۃ dengan semisal niat :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَۃَ فَرْضَا لِلّٰهِ تَعَالَی.

Dan niat puasa tetap sah walaupun salah I’rob di dalamnya, Karena letak niat itu di dalam hati.Maka apabila niat di ucapkan, maka hendaknya tidak salah dalam I’rob.

Sebagai bentuk menjaga diri apabila suatu saat kita lupa niat puasa pada malam hari sehingga alangkah baiknya kita mengikuti pendapat Imam Malik bahwa niat di cukupkan pada hari yang pertama saja sehingga pada malam yang pertama dari bulan Ramadhan bagus untuk di niatkan seluruh puasa Ramadhan sebagaimana keterangan dalam kitab Kasifatussaja :
قال الزيادی فلو نوی ليلۃ أول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول لكن ينبغی له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذی نسی النيۃ فيه عند مالك كما يسن له أن ينوي أول اليوم الذی نسيها فيه ليحصل له صومه.

Dan hal ini bisa di niatkan dengan semisal :
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَۃِ تَقْلِيْدًا لِلإِمَامِ مَلِكٍ فَرْضَا لِلّٰهِ تَعَالَی.
Dengan demikian seandainya pada malam-malam selanjutnya kita lupa tidak niat maka puasa kita sudah di anggap sah yakni dengan mengikuti Madzhab Imam Malik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *